Masuk kantor baru itu rasanya kayak first date. Semua manis, semua sopan, semua keliatan sempurna. Resepsionisnya ramah, atasanmu senyum terus di minggu pertama, dan kamu pulang dengan hati berbunga-bunga. Tapi gue pernah ada di posisi ini dua kali, dan dua-duanya berakhir dengan perasaan "kok bisa ya gue nggak lihat dari awal?".
Nah, dari pengalaman itu, gue mulai belajar bahwa kantor yang bermasalah biasanya kasih sinyal sejak awal. Cuma kita aja yang sering nggak mau lihat karena udah keburu seneng dapat kerjaan. Padahal kalau kamu jeli, beberapa minggu pertama itu udah cukup buat baca situasi.
Wawancara Terasa Aneh? Coba Ingat Detailnya
Banyak orang nganggep wawancara cuma soal jawab pertanyaan. Padahal di situ juga kamu bisa baca banyak hal. Misalnya, waktu ditanya soal jam kerja, pewawancaramu jawabnya muter-muter, nggak jelas. Atau waktu kamu tanya soal turnover tim, dia tiba-tiba ganti topik.
Baca juga: Ditagih Klien gara-gara Salah Paham, Freelancer Sering Abaikan Hal Ini
Itu bukan pertanyaan yang nggak dijawab karena lupa. Itu seringkali jawaban itu sendiri.
Gue pernah ikut wawancara di mana HRD-nya bilang "di sini mah santai, nggak ada lembur". Tiga bulan kemudian, gue pulang rata-rata jam sembilan malam. Bukan berarti semua yang bilang santai itu bohong, tapi kalau ada pernyataan yang terlalu manis tanpa detail, coba cek lagi. Tanya spesifik: rata-rata tim pulang jam berapa, ada nggak kerja di akhir pekan, dan gimana cara mereka ngukur performa.
Red flag kecil yang sering diabaikan
- Pewawancara datang telat tanpa alasan jelas, atau ganti jadwal berkali-kali
- Pertanyaan seputar "kesediaan lembur" muncul lebih sering daripada soal skill
- Nggak ada satu pun anggota tim yang kamu temui, padahal posisinya tim-based
- Jawaban soal budaya kerja selalu normatif: "kekeluargaan", "kita di sini satu keluarga"
Yang terakhir itu, menurut gue, paling perlu diwaspadai. "Kekeluargaan" di dunia kerja sering dipakai buat minta lebih banyak dari yang seharusnya. Kamu diminta lembur tanpa dibayar karena "kan udah kayak keluarga". Kamu nggak bisa cuti karena "tim lagi butuh banget". Hati-hati.
Minggu Pertama: Perhatikan yang Nggak Diucapkan
Di minggu pertama, kamu biasanya masih mode sopan. Tapi justru di sini banyak sinyal muncul. Coba perhatikan: apakah orang-orang di kantor ngobrol santai di pantry, atau semuanya diam dan buru-buru balik ke meja? Apakah ada yang ketawa lepas, atau semua orang kelihatan tegang?
Gue bukan bilang kantor yang sunyi itu pasti toxic. Tapi kalau dari pagi sampai sore nggak ada obrolan ringan sama sekali, dan semua orang kelihatan takut sama satu orang tertentu, itu tanda ada sesuatu yang nggak sehat di situ.
Hal lain yang gue pelajari: perhatikan gimana atasanmu ngomong soal karyawan lamanya. Kalau dia gampang banget nyinyirin mantan anak buahnya di depan orang baru, kemungkinan besar kamu bakal jadi bahan cerita juga nanti. Orang yang ngomongin orang lain di belakang biasanya nggak berhenti cuma di satu orang.
Gimana Cara Kamu Diperlakukan di Awal
Ini yang paling sering gue abaikan dulu. Minggu pertama, apakah kamu dikasih onboarding yang jelas, atau dibiarkan bingung cari sendiri? Apakah ada yang nemenin makan siang, atau kamu duduk sendirian di kantin sambil pura-pura sibuk sama HP?
Detail kecil ini kelihatan sepele, tapi ngasih gambaran gimana kantor itu memperlakukan orang. Kantor yang nggak repot-repot nyiapin onboarding biasanya juga nggak repot-repot mikirin kesejahteraan karyawannya. Kamu cuma dianggap kursi yang harus diisi.
Kantor yang bikin kamu ngerasa "diterima" dari hari pertama biasanya bakal bikin kamu betah. Kantor yang bikin kamu ngerasa "harus membuktikan diri dulu" bisa jadi dua arah: sehat atau melelahkan.
Yang perlu kamu cek: apakah setelah sebulan, kamu masih ngerasa harus "buktinya" terus? Kalau iya, dan nggak ada tanda-tanda kamu dianggap cukup, itu sinyal yang perlu dipikirkan.
Soal Gaji dan Janji yang Menggantung
Ini klasik banget. Waktu wawancara, ada janji soal review gaji setelah probation, tunjangan tertentu, atau bonus proyek. Tapi pas masuk, semuanya jadi abu-abu. Nggak ada yang ngomongin lagi.
Gue pernah ngalamin ini. Waktu masuk, dijanjiin review gaji setelah tiga bulan. Pas tiga bulan, atasan gue bilang "nanti ya kita lihat dulu performanya". Pas enam bulan, dia bilang "kondisi perusahaan lagi susah". Pas setahun, gue udah males nanya.
Pelajarannya: janji lisan itu murah. Kalau kamu dikasih janji soal duit atau benefit, minta ditulis di kontrak atau minimal di email. Kalau mereka nggak mau nulis, itu jawaban juga.
Dan satu lagi, jangan malu nanya soal gaji teman satu level kalau situasinya memungkinkan. Banyak orang takut dianggap nggak sopan, padahal transparansi gaji itu justru bikin kamu nggak gampang dibodohi. Kalau kamu ngerasa digaji jauh di bawah rekan yang kerjanya sama, itu bukan salahmu, itu tanda ada yang nggak beres di tempat kerja itu.
Intinya, kantor baru itu kayak orang baru yang kamu kenal. Nggak ada salahnya seneng dan berharap. Tapi jangan sampai senengnya bikin kamu nutup mata sama sinyal-sinyal kecil yang sebenarnya udah ngomong dari awal. Lebih baik waspada di awal daripada nggak betah setahun kemudian dan ngerasa udah buang waktu.
Kalau kamu udah lihat satu-dua tanda di atas, nggak berarti harus langsung resign. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang harus diwaspadai, dan bisa siap-siap cari jalan keluar sebelum kejebak terlalu dalam.