Minggu lalu gue ngobrol sama temen lama, sebut saja Dimas. Dia tinggal di Bekasi, punya istri dan satu anak balita. Selama lima tahun dia kerja di perusahaan logistik dengan gaji yang bisa dibilang pas-pasan buat ukuran Jakarta. Tiba-tiba dia dapet dua tawaran sekaligus. Yang pertama, perusahaan startup dengan gaji hampir dua kali lipat, tapi jam kerjanya jelas-jelas nggak manusiawi. Yang kedua, perusahaan BUMN dengan gaji cuma naik sekitar 20 persen, tapi jam kerja normal dan ada tunjangan anak.
Dia nanya ke gue, "Lo kalau jadi gue, pilih mana?"
Gue diem. Karena jujur, pertanyaan itu nggak bisa dijawab cuma pakai feeling. Apalagi buat kita yang udah punya keluarga kecil di kota besar. Biaya hidup nggak nunggu kita mikir lama. Tapi di sisi lain, anak juga nggak bisa nunggu kita pulang.
Dua Pilihan yang Sama-Sama "Benar"
Buat keluarga kecil di kota besar, pilihan karier itu selalu punya dua sisi yang nggak bisa dipisah. Ada yang milih kejar penghasilan lebih besar karena sadar biaya sekolah, sewa, dan cicilan nggak main-main. Ada juga yang milih ngerem dulu, karena sadar waktu sama anak umur 0-5 tahun itu nggak bisa diulang.
Dan lucunya, dua-duanya sering dianggap salah sama orang lain. Yang milih gaji gede dibilang "matre" atau "nggak mikirin anak". Yang milih santai dibilang "nggak punya ambisi". Padahal kenyataannya, keputusan ini sangat personal. Tergantung kondisi tabungan, dukungan pasangan, dan seberapa besar ruang napas yang kamu butuhin.
Gue sendiri pernah ada di posisi ini. Dulu gue sempat ambil kerjaan dengan gaji lumayan tapi harus standby sampai jam 10 malam. Hasilnya? Anak gue tidur sebelum gue sampai rumah. Tiga bulan jalan, gue sadar duitnya nambah, tapi gue kayak jadi tamu di rumah sendiri.
Yang Sering Dilupakan Saat Bandingin Dua Tawaran
Waktu kita dapet dua tawaran kerja, biasanya yang pertama kita bandingin cuma angka di slip gaji. Padahal ada beberapa hal lain yang kalau dihitung, bisa ngubah total keputusan.
- Waktu tempuh ke kantor. Gaji naik 2 juta tapi harus commute 3 jam sehari? Itu artinya kamu kehilangan 60 jam sebulan. Kalau dihitung per jam, bisa jadi lebih rugi.
- Fleksibilitas. Ada kantor yang ngasih opsi WFH beberapa hari, ada yang nggak sama sekali. Buat yang punya anak kecil, ini bukan bonus kecil.
- Biaya tersembunyi. Makan siang di luar, transport, asuransi yang harus beli sendiri, biaya penitipan anak tambahan. Semua ini bisa ngabisin kenaikan gaji sebelum sampai rekening.
- Prospek jangka panjang. Naik gaji sekarang belum tentu naik karier lima tahun lagi. Kadang posisi yang "sepi" justru punya jalur jelas.
Gue pernah baca cerita seseorang yang akhirnya nolak tawaran gaji besar karena hitung-hitungan ini. Dan dia nggak nyesel. Karena setelah dihitung, kenaikan gajinya cuma "kelihatan" besar, tapi habis buat nutup biaya hidup yang naik gara-gara kerjaan itu.
Ngomongin Ini Sama Pasangan Itu Wajib, Bukan Opsional
Ini bagian yang sering diabaikan. Banyak dari kita, terutama cowok, ngerasa keputusan karier itu urusan pribadi. Padahal kalau kamu udah punya keluarga, keputusan ini efeknya ke semua orang di rumah.
Pasangan kamu berhak tahu konsekuensinya. Kalau kamu ambil kerjaan gaji besar tapi pulang malam terus, artinya pasangan yang harus ambil alih lebih banyak urusan rumah. Kalau kamu ambil kerjaan santai tapi duitnya mepet, artinya kalian harus atur ulang gaya hidup.
Keputusan karier yang nggak dibicarain sama pasangan itu bom waktu. Kelihatan aman di awal, meledak di tengah jalan.
Gue dan istri punya semacam "aturan" nggak tertulis. Sebelum gue ambil keputusan besar soal kerjaan, kita duduk bareng, hitung bareng, dan yang paling penting: kita sepakatin apa yang bakal kita korbin. Karena setiap pilihan pasti ada harganya.
Pertanyaan yang Bisa Kamu Tanyain ke Diri Sendiri
Kalau kamu lagi di posisi Dimas, coba jawab pertanyaan ini dengan jujur:
- Kalau gue ambil kerjaan ini, berapa jam sehari gue masih bisa ketemu anak dalam keadaan sadar?
- Kalau gue tolak kerjaan ini, apa yang bakal gue sesalin lima tahun lagi?
- Tabungan gue cukup nggak buat bertahan 6 bulan kalau ada apa-apa?
- Pasangan gue bakal jadi lebih terbebani atau lebih lega?
Jawaban-jawaban ini biasanya lebih jujur daripada sekadar hitung-hitungan gaji. Karena yang bikin kita tenang bukan angka di rekening, tapi tahu bahwa kita udah mikir dengan kepala dan hati.
Nggak Ada Jawaban yang Sama buat Semua Orang
Balik lagi ke Dimas. Akhirnya dia milih yang kedua. Gaji naiknya nggak seheboh tawaran pertama, tapi dia bisa antar anaknya sekolah pagi, dan pulang sebelum maghrib. Dia bilang, "Gue nggak mau anak gue kenal gue cuma dari foto di HP."
Tapi gue juga kenal orang yang milih sebaliknya. Seorang ibu yang ambil kerjaan gaji gede karena suaminya lagi kena PHK. Dia kerja keras dua tahun, dan sekarang keluarganya jauh lebih stabil. Anaknya mungkin sempat kurang waktu sama ibunya, tapi secara finansial mereka selamat.
Dua-duanya sah. Dua-duanya juga punya harga yang harus dibayar.
Yang penting bukan pilihan mana yang "lebih benar", tapi apakah kamu dan pasangan kamu sadar penuh sama konsekuensinya. Kalau iya, jalanin aja. Kalau di tengah jalan ternyata nggak cocok, ya nggak apa-apa buat ganti arah. Karier itu bukan garis lurus, apalagi buat kita yang udah punya keluarga kecil di kota besar.
Kadang yang kita butuhin bukan jawaban sempurna, tapi keberanian buat milih dan tanggung jawab buat ngejalaninnya. Termasuk keberanian buat bilang "ini yang gue pilih, dan gue siap sama konsekuensinya."