Rabu, 4 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
aprodev.orgaprodev.org
aprodev.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Aku Baru Sadar, Uang Habis Bukan Karena Makan

Aku Baru Sadar, Uang Habis Bukan Karena Makan

Anak perantau sering salah hitung biaya hidup. Bukan makan yang bikin bokek, tapi hal-hal kecil yang nggak kelihatan.

Aku Baru Sadar, Uang Habis Bukan Karena Makan

Dua tahun lalu, gue inget banget momen di mana gue ngecek saldo rekening dan cuma tersisa dua ratus ribu, padahal baru tanggal 12. Padahal gue ngerasa udah super hemat. Nggak pernah nongkrong di kafe mahal, masak sendiri, nggak jajan kopi kekinian. Tapi kok duit tetep aja lenyap kayak ditelan bumi?

Kalau kamu anak perantau yang lagi kuliah atau baru mulai kerja di kota orang, mungkin kamu pernah ngerasain hal yang sama. Dan di sinilah gue mau cerita soal sesuatu yang jarang banget dibahas orang: biaya tersembunyi jadi anak perantau yang ngejar karier. Bukan soal makan, bukan soal kos. Tapi soal hal-hal kecil yang kita anggap "wajar" padahal ngerogoh kocek tanpa kita sadar.

Pulang Kampung Itu Mahal, dan Kita Nggak Pernah Ngitung

Ini yang paling sering gue lupakan. Setiap kali ada libur panjang atau acara keluarga, gue pasti pulang. Tiket bus, kereta, atau pesawat kalau lagi mepet — bisa habis sejuta lebih dalam sekali pulang. Belum lagi oleh-oleh, uang saku buat ponakan, dan traktiran di rumah.

Baca juga: Di Kos Anak Buahku, Mitos Soal Karyawan Ideal Mulai Runtuh

Waktu masih kuliah, gue pikir ini pengeluaran "sekali-sekali". Tapi kalau dihitung setahun bisa lima sampai enam kali pulang, totalnya bisa belasan juta. Jumlah yang kalau ditabung, udah cukup buat DP motor atau dana darurat tiga bulan.

Yang bikin sedih, pengeluaran ini sering nggak masuk catatan karena kita ngerasa itu "kewajiban" atau "udah seharusnya". Padahal dompet nggak peduli alasan kita.

Saran gue sederhana: mulai sekarang, anggarkan biaya pulang kampung per tahun, bukan per trip. Jadi kamu tahu persis berapa yang harus disisihkan tiap bulan. Kalau ternyata berat, nggak apa-apa kok pulang lebih jarang. Keluarga yang ngerti kondisi kamu pasti nggak akan maksa.

Transportasi Harian: Musuh yang Nggak Kelihatan

Nah ini dia yang paling licik. Anak perantau biasanya tinggal di kos atau kontrakan yang jauh dari kampus atau kantor karena murah. Tapi ongkos hariannya? Bisa jadi lebih mahal dari selisih harga sewa.

Gue pernah tinggal di kos yang sewa-nya 700 ribu tapi harus naik ojek online dua kali sehari. Sebulan ongkos transportasi bisa nyampe 900 ribu. Temen gue tinggal di kos 1,2 juta tapi bisa jalan kaki ke kantor. Total pengeluaran dia lebih kecil dari gue, padahal sewa-nya kelihatan lebih mahal.

Ini yang jarang banget dibahas waktu kita cari kos atau kontrakan. Kita terlalu fokus ke angka sewa, lupa ngitung biaya mobilitas. Padahal buat anak perantau yang belum punya kendaraan, ini pos pengeluaran yang gede banget.

Cara gue ngakalinnya sekarang

  • Selalu hitung total biaya sewa plus transportasi sebelum pilih tempat tinggal
  • Pertimbangkan jarak ke kantor atau kampus sebagai faktor utama, bukan cuma harga
  • Kalau bisa, cari yang dekat akses transportasi umum biar ada opsi murah
  • Jangan ragu bayar lebih buat lokasi strategis kalau selisihnya masuk akal

Biaya "Tampil Layak" Saat Wawancara dan Kerja

Ini yang mungkin paling nggak pernah dibahas. Sebagai anak perantau yang lagi cari kerja atau baru masuk kantor, ada tekanan buat "tampil layak". Beli kemeja baru buat wawancara, sepatu formal yang nggak bikin kaki sakit, tas yang kelihatan profesional. Belum lagi kalau kantor punya dress code tertentu.

Gue inget waktu wawancara pertama dulu, gue bela-belain beli blazer baru karena takut kelihatan nggak profesional. Padahal duitnya dari sisa tabungan yang harusnya buat bayar kos bulan depan. Untungnya keterima, tapi kalau nggak? Duplikasi pengeluaran yang nggak perlu.

Yang lebih parah, setelah kerja pun ada biaya sosial yang nggak kelihatan. Traktiran tim, patungan kado buat atasan yang ulang tahun, iuran kopi bareng, atau sekadar ikut makan siang di tempat yang agak mahal biar nggak dianggap antisosial. Buat anak perantau yang belum mapan, ini bisa jadi beban diam-diam.

Gue bukan bilang kamu harus pelit dan nggak ikut sama sekali. Tapi kamu berhak punya batas. Nggak semua ajakan harus diiyain. Dan kalau ada yang nanya kenapa kamu sering bawa bekal atau nggak ikut makan siang di luar, kamu nggak wajib jelasin kondisi keuanganmu ke semua orang.

Dana Darurat: Hal yang Sering Ditunda Anak Perantau

Ini mungkin yang paling penting tapi paling sering diabaikan. Anak perantau nggak punya jaring pengaman keluarga di kota rantau. Kalau sakit, kehilangan pekerjaan, atau ada musibah, kamu sendirian. Nggak ada ibu yang bisa langsung transfer, nggak ada rumah buat pulang sementara.

Gue baru sadar pentingnya dana darurat waktu temen kos gue kena tipes dan harus opname tiga hari. Biaya rumah sakit, obat, dan dia nggak bisa kerja sebulan. Untung dia punya tabungan. Kalau nggak? Bisa jadi dia harus utang atau pulang kampung dengan kondisi gagal.

Idealnya, anak perantau punya dana darurat minimal tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan. Kedengarannya berat, apalagi kalau gaji masih UMR. Tapi mulai dari kecil dulu, nggak apa-apa. Seratus ribu per bulan pun lebih baik daripada nol. Yang penting konsisten dan jangan disentuh kecuali benar-benar darurat.

Pisahkan rekening dana darurat dari rekening harian. Kalau digabung, pasti kepake buat hal-hal yang nggak penting. Percaya deh, gue udah pernah gagal berkali-kali karena males misahin.

Mulai Hitung yang Nggak Kelihatan

Jadi begini. Kalau kamu anak perantau yang lagi berjuang di kota orang, mulai sekarang coba lebih jujur sama diri sendiri soal pengeluaran. Bukan cuma soal makan dan kos. Tapi soal pulang kampung, transportasi harian, biaya tampil profesional, dan dana darurat yang sering ditunda.

Nggak perlu langsung sempurna. Mulai dari nyatet pengeluaran seminggu aja dulu, terus lihat mana yang ternyata lebih gede dari yang kamu kira. Dari situ kamu bisa mulai atur ulang. Karier dan hidup di kota orang itu udah susah, jangan ditambah stres karena duit habis tanpa tau ke mana perginya.

Gue sendiri masih belajar sampai sekarang. Tapi setidaknya sekarang gue udah nggak bingung lagi kenapa saldo suka tiba-tiba tipis. Karena gue udah tau ke mana perginya. Dan kamu juga bisa.

Tags: anak perantau biaya hidup karier wawancara kerja keuangan pribadi